Cerpen Anak-Anak Terbaru

 

Cerpen Anak-Anak Terbaru ~ Bagi anda para ibu-ibu yang ingin bercerita untuk anaknya melalui cerpen anak-anak, Raziel punya beberapa koleksi cerita pendek "CERPEN" anak terbaru bisa anda lihat selengkapnya di bawah ini.
Cerpen Anak

Cerpen Anak - Penyesalan Syifa


Oleh Arief Kamil

Seperti hari-hari biasanya, setelah makan malam Syifa dan keluarganya pasti berkumpul diruang keluarga, sekedar berdiskusi dan membicarakan kegiatan yang telah mereka lakukan siang tadi. Tapi, malam ini kebiasan itu tidak lagi dilakukan, gadis cantik yang sekarang duduk di kelas enam SD itu lebih memilih mengurung diri dikamar, tidak banyak bicara dan tidak seceria hari biasanya.
Keanehan itu akhirnya disadri Ayah dan Bunda karena, tidak biasanya Syifa yang setiap hari riang gembira tiba-tiba berdiam diri dikamar.
" Yah.., Syifa kemana ?, setelah makan malam tadi Bunda tidak melihatnya lagi ", ujar Bunda menyadari sosok Syifa yang tidak berkumpul bersama mereka.
" Mungkin sedang buat PR dikamarnya Bun ", jawab Ayah seperti tidak menyadari keanehan yang terjadi pada putri semata wayangnya.
" Tapi dari siang tadi Bunda perhatikan sepertinya Syifa bersikap aneh Yah, tidak banyak bicara dan lebih memilih mengurung diri dikamar, kira-kira ada apa ya Yah ? "
" Loh… kok Bunda Tanya sama Ayah, bukannya Bunda yang sehari tadi dirumah ?", jawab Ayah sambil melihat kelayar televisi.
" Bunda tahu Yah, tapi apa Ayah tidak merasa aneh dengan sikap Syifa ? "
" Jujur Ayah merasa aneh juga sih, apa jangan-jangan anak itu sakit atau nilai ulangannya jelek. Mungkin lebih baik Bunda tanya langsung sama Syifa agar kita tidak bertanya-tanya seperti ini ",
" Benar juga kata Ayah, Bunda susul Syifa kekamarnya ya ", Ujar Bunda sambil menuju pintu kamar Syifa.
***
Ada sebuah tanda Tanya besar yang dirasakan Bunda, perubahan sikap putrinya membuat suasana yang selama ini ramai tiba-tiba berubah. Canda tawanya yang selama ini terdengar diruang makan, didepan televisi serta diruang keluarga seperti hilang begitu saja, seiring sikapnya yang murung.
Bunda menduga telah terjadi sesuatu yang dirahasiakan Syifa padanya, namun mengapa Syifa merahasiakn itu, bukankah selama ini Syifa selalu menceritakan segala sesuatu yang terjadi, ujar Bunda bertanya-tanya.
" Syifa.., kamu ada didalam kan nak? ", ucap Bunda yang semakin cemas dengan keadaan anaknya.
Tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar. Pintu kamar yang biasanya tidak terkunci, tiba-tiba dikunci dari dalam.
" Syifa.., kamu sedang apa ?, kamu sakit ?, kalau sakit bilang sama Bunda biar kita ke Dokter "
Kembali Syifa tidak menjawab ucapan Bunda. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar.
" Syifa, jawab apa kata Bunda nak, jangan diam begitu. Ayah tahu kamu pasti ada didalam. Apa kamu ingin Bunda bersedih karena memikirkan keadaan kamu. Apa yang terjadi pada kamu sayang, jujurlah sama Ayah", Ayah yang dari tadi menyaksikan berita dari layar televisi mencoba membujuk Syifa agar mau membuka pintu kamar.
" Syifa benci Ayah, Syifa benci Bunda.. Syifa benci…!", tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dalam kamar.
" Kamu benci kenapa Nak, apa Ayah dan Bunda pernah melakukan kesalahan pada kamu?"
" Iya…semua gara-gara Ayah dan Bunda ", kembali Syifa menjawab dari dalam kamar
" Gara-gara Ayah dan Bunda ?, Ayah tidak mengerti "
" Iya nak, Bunda salah apa ?, setahu Bunda Ayah tidak pernah membuat kesalahan. Dan kalau memang ayah ataupun Bunda pernah berbuat salah, kami minta maaf ", ujar Bunda yang suaranya sedikit terdengar serak.
" Syifa malu Bun, syifa selalu saja menjadi bahan ledekan teman-teman disekolah, semua itu terjadi karena Ayah dan Bunda"
" Maksud kamu apa ?, Bunda tidak mengerti "
" Teman-teman dikelas sering memanggil Syifa dengan sebutan gendut, itu karena Ayah dan Bunda, karena Ayah juga gendut seperti Syifa. Kalau Ayah dan Bunda kurus pasti Syifa juga kurus dan tidak diejek teman-teman yang lain ".
" O..oo, jadi itu alasannya mengapa kamu marah sama Ayah ", ucapa Ayah menahan senyum.
Bunda yang dari tadi terlihat sedih, mulai terlihat ceria kembali. Dugaan buruk yang dari tadi terfikir ternyata tidak terbukti.
" Sekarang Ayah minta kamu buka pintunya, kita bicarakan masalah kamu diruang tamu. Ayah ada jalan keluarnya loh ", bujuk ayah mencoba menarik perhatian putrinya.
" Apa..?, Ayah punya jalan keluar dan bisa membuat tubuh Syifa kurus ", jawab Syifa sambil membuka pintu kamar.
" Nah.. begitu dong, jangan berdiam diri dikamar, sekarang kita bicara diruang tamu ya ", ajak Bunda sambil merangkul anaknya.
" Apa benar Ayah punya cara agar tubuh Syifa tidak gemuk seperti ini lagi ? ", Tanya Syifa sesampai di ruang tamu.
Suasana sedikit hening, berlahan Ayah memandang wajah putrinya dalam-dalam. Sepertinya rasa keingintahuan Syifa begitu besar.
" Kamu pasti pernah melihat peminta – minta diperempatan lampu merahkan?, Ayah masih ingat saat itu kamu begitu kasihan melihat seorang anak yang kepalanya besar dan tergeletak begitu saja dipinggir trotoar dengan sebuah ember plastik, kamu masih ingat",
" Masih Yah, Syifa benar-benar kasihan melihatnya "
" Nah seandainya kamu dilahirkan seperti anak itu bagaimana prasaan kamu? ", Tanya Ayah yang membuat wajah Syifa menjadi sedih.
" Syifa tidak ingin lahir dengan keadaan seperti itu Yah "
" Sekarang Ayah memberikan dua pilihan, mana yang akan kamu pilih dilahirkan dengan keadaan kepala besar seperti anak itu atau lahir sempurna seperti, berwajah cantik, pintar tapi sedikith gemuk, mana yang kamu pilih ? "
Sesaat Syifa terdiam, air matanya begitu saja mengalir dan berlahan memeluk tubuh Ayahnya.
" Syifa menyesal Yah.." ujarnya sambil menangis.
" Ayah tahu kamu pasti memilih terlahir dengan keadaan yang sekarang. Kita wajib bersukur dengan pemberian Tuhan. Banyak orang yang terlahir dengan keadan cacat dan tidak sesempurna kita ". Ayah berusaha menasehati Syifa yang terlihat menyesal dipangkuannya.
" Ayah benar nak, meski Syifa gemuk, tapi kami tetap sayang kamu, tetap anak Bunda dan Ayah.
" Syifa menyesal Bun, seharusnya Syifa tidak mendengarkan ledekan teman-teman, harusnya Syifa bersyukur punya Ayah dan Bunda yang begitu sayang Syifa ",
" Syukurlah kamu mengerti, nah sekarang Syifa jangan sedih lagi ya.., Bunda bangga punya anak cantik dan pintar seperti kamu ", ujar Bunda sambil mengelus kepala buah hatinya.
Tidak berapa lama suasana mulai ceria kembali, tawa riang kemabali terdengar diantara Ayah, Bunda dan Syifa.
-------+++-------

Cerpen Anak - Kado Untuk Ayah


Oleh Arief Kamil

Bagaimana rasanya bisa cari uang sendiri, tentu menyenangkan bukan ?. Nah… Kiki dan ketiga kakaknya ingin sekali memberikan hadiah untuk sang Ayah yang sedang dirawat dirumah sakit. Namun mereka bingung karena uang yang mereka tabung selama ini sudah habis digunakan untuk biaya rumah sakit.
Kiki, Agit, Lina dan Beny kemudian menemukan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Mereka sepakat melakukan pekerjaan sambilan sepulang sekolah. Dengan semir sepatunya Agit mengelilingi pusat keramaian, menunggu orang-orang yang membutuhkan jasa semir sepatu. Begitupun Lina, tanpa rasa malu sedikitpun Ia menjajakan garam dapur kesetiap Ibu-ibu disekitar komplek perumahan. Sisulung Beny juga tidak mau kalah, anak laki-laki yang sekarang duduk dikelas lima Sekolah Dasar itu tidak malu menjadi juru parkir disebuah rumah makan.
Semangat mereka sungguh luar biasa, tidak ada perasaan malu meski anak-anak seusia mereka tidak pantas melakuakn pekerjaan seperti itu. Mungkin bermain dengan teman sebaya serta menikmati masa kanak-kanak yang ceria merupakan pekerjaan yang pantas mereka lakukan. Sebagai kakak terbesar Beny selalu memberi semangat kepada adik-adiknya untuk melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh sehingga bisa memberikan kado terindah buat sang ayah yang sedang dirawat.
Tapi, siapa sangka Kiki yang baru berumur enam tahun ternyata yang paling banyak mendapatkan uang. Apa yang dikerjakan si bungsu sehingga mengalahkan hasil yang diperoleh oleh ketiga orang saudaranya ?
Pagi ini Kiki kembali bangun paling awal. Dengan sebuah kantong pelastik ditangan, Ia melangkah membelah pagi. Walau hari masih terlihat gelap dan udara terasa dingin namun semua bukanlah menjadi alasan untuk bermalas-malasan dan melupakan pekerjaan barunya. Dengan ringan Kiki melangkah menuju sebuah kantor berlantai tiga yang terletak tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Tanpa perlu menunggu waktu lama, Kiki segera memasukan sesuatu yang telah terbungkus dalam beberapa paket kedalam kantong plastik, tidak ada perasaan takut apalagi malu meski setengah waktunya selalu dihabiskan dijalan raya,
Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kali ini Kiki membawa 25 koran karena, 15 koran yang sebelumnya Ia bawa selalu saja habis diborong pembeli diperempatan lampu merah. Hasilnya lumayan, dari 15 koran yang laku terjual Kiki memperoleh keuntungan lima belas ribu rupiah. Hasil yang begitu besar untuk anak enam tahun seperti dirinya.
***
Suasana siang terasa begitu panas, terik matahari terasa menyengat, belum lagi kotornya asap pekat kendaraan. Namun semua itu tidak membuat Kiki menyerah apalagi menghalangi niat baiknya untuk memberikan hadiah bagi sang Ayah. Suaranya tetap tegar membelah deru mesin kendaraan, setiap mobil yang berhenti pasti Ia dekati, tentunya sambil menawarkan koran. Tidak ada perasaan gengsi sedikitpun apalagi perasaan risih walau menawarkan lembaran koran dilalu lalang kendaraan. Sering kali tatapan kasihan, ungkapan kata salut terlihat dimata pengguna jalan, namun tidak jarang juga ada yang marah karena membuat jalanan macet karena banyak penjual koran di lampu merah.
Kiki memang pintar, koran-koran itu tidak saja Ia jual pada orang-orang yang memakai kendaran pribadi namun juga kepada mereka yang menggunakan jasa angkutan umum. Setiap koran yang dibawa selalu saja habis dan membuat penjual koran yang lain bertanya-tanya bagaimana cara Kiki menghabiskan koran-korannya. Makanya tidak heran Kiki berhasil mengumpulkan keuntungan sebesar seratus ribu selama satu Minggu, jauh lebih besar dari hasil yang didapat oleh ketiga kakaknya.
***
Ada kabar gembira siang ini, khusus untuk Kiki bersaudara. Setelah genap sepekan dirawat dirumah sakit, akhirnya sang Ayah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Kiki senang sekali mendengar berita itu. Kebersamaan dirumah yang sekian lama hilang akan hadir kembali ditengah-tengah mereka.
Setelah korannya habis Kiki bergegas menuju pusat perbelanjaan, membeli sesuatu untuk sang ayah tersayang. Namun tiba-tiba Kiki bingung, hadiah apa yang pantas Ia beriakn untuk Ayahnya. Membeli sesuatu dengan harga mahal tentu tidak akan mungkin.
" Hadiah apa yang bisa membuat Ayah senang tapi didapat dengan uang seratus ribu ? ", gumam Kiki disaat sepasang kakinya menyentuh pintu masuk salah satu toko makanan.
Satu jam sudah Kiki melangkah memutari pusat perbelanjaan, namun sayangnya sesuatu yang Ia cari belum juga ditemukan. Mungkin karena satu hal saja, karena harga yang ditawarkan penjaga toko tidak sebanding dengan jumlah uang yang ada disakunya. Dengan langkah lemah Kiki keluar dari toko megah itu.
Sesampai di luar langkah Kiki tiba-tiba berhenti, matanya tak lepas memandang sesuatu yang tergantung didepan emperan sebuah toko pakaian. Sedikit ragu Ia menghampiri dan menawar sebuah benda yang menarik perhatiannya.
" Yang ini harganya berapa mbak ",
" Dua ratus lima puluh ribu, ini barang bagus maka harganya sedikit mahal ", ujar pemilik toko sambil mengambil barang yang ditanyakan Kiki tadi
" Uang saya tidak cukup Mbak, mungkin Saya cari ditempat yang lain saja ", jawab Kiki sambil pamit kepada perempua yang ada dihadapannya.
" Ini masih bisa ditawar kok, kalau kamu suka mbak bisa berikan potongan harga "
" Uang saya hanya ada seratus ribu "
" Memangnya baju ini untuk siapa ", Tanya penjaga toko
" Untuk Ayah saya, Ayah sudah seminggu dirawat dirumah sakit, tapi sekarang sudah diperbolehkan pulang. Saya ingin memberikan hadiah untuk Ayah "
" O… begitu, ya sudah baju ini saya jual seratus ribu saja, hitung-hitung beramal. ,Semoga Ayahnya cepat sembuh ya ",
Dengan hati riang Kiki menuju Rumah Sakit, menjenguk sang Ayah dan memberikannya sebuah kado. Hilang sudah jerih payahnya selama in, perjuangan itu berganti dengan kebahagian. Walaupun hanya sebuah baju batik yang didapat dengan harga murah, tapi Kiki yakin Ayah pasti senang menerimanya.
-------+++-------

Itulah sedikit "Cerpen Anak-Anak Terbaru" semoga membantu anda yang sedang mencari kumpulan Cerpen Anak-Anak Terbaru. Jangan lupa memberi rate dengan klik Like botton di bawah untuk membantu artikel tersebut di baca oleh teman-teman anda. Pada kesempatan lain saya akan update koleksi yang lain tentang Cerpen Anak-Anak Terbaru.
Cerpen Anak-Anak Terbaru 4.5 5 Anti Login Cerpen Anak-Anak Terbaru ~ Bagi anda para ibu-ibu yang ingin bercerita untuk anaknya melalui cerpen anak-anak , Raziel punya beberapa kole...
Ingin memesan Ayam Aduan secara khusus seperti:
1. Ayam kelas kontes
2. Ayam kelas undangan
3. Ayam siap turun laga
4. Ayam kelas pinggiran
5. Anakan
6. Materi ternak
7. Ayam muda berbakat
8. Dll...
Konsultasikan dulu dengan Tim Marketing kami melalui :
PALP
Back to top